Ngerandom soal Laskar Pelangi
Laskar pelangi, salah satu novel dari
keempat tetralogi karya andrea hirata ini sepertinya sudah tidak usah ditanya
lagi ketenarannya. Hampir semua orang tahu apa itu laskar pelangi. Oh bukan
bukan.. ini bukan review novel. Mereview sebuah novel yang sudah sangat terkenal
seperti ini sepertinya sangat tak perlu. Terlebih sungguh telat sekali untuk
mereviewnya setelah bertahun-tahun novel ini terbit dan sudah dijadikan dalam
bentuk film, lagu, dan drama musikal. Melihat begitu banyaknya adaptasi novel
ini dalam bentuk yang berbeda-beda. Saya rasa laskar pelangi memang cukup luar biasa.
Terlepas dari apapun kontroversinya andrea hirata dalam dunia literasi maupun
kehidupan pribadinya, saya tetap menganggap novel ini luar biasa.
Anggaplah ini tulisan random. Bukan review, bukan pembahasan,
bukan fakta-fakta, atau apapun. Hanya sekedar tulisan tentang laskar pelangi
dan sedikit curhat saya tentang novel ini. Baiklah, saya mulai dengan
perkenalan pertama kali saya dengan novel ini. Novel ini saya beli pada bulan
oktober 2008, tepat beberapa hari setelah filmnya terbit. Sebenarnya sahabat
saya yang tahu lebih dulu soal novel dan film ini. Karena nggak mau nonton
filmnya sebelum tahu isi dalam novel tersebut, sayapun dikejar deadline baca
novel ini sebelum jadwal nonton bareng sama teman-teman SMA. Sukses, saya
menyelesaikannya sehari sebelum nonton. Saya harus akui bahwa saya memang
cengeng. Dua teman perempuan saya yang nonton saja tidak meneteskan airmata
sedikitpun, lah saya? Saya sukses gerimis airmata pas adegan lintang keluar
dari sekolah. Sebetulnya bukan adegan yang luar biasa. Tapi cukup sukses untuk menggoda airmata terjun dari persembunyiannya.
Kembali lagi soal novel. Kita tahu kalau novel ini
merupakan sejenis novel otobiografi yang menceritakan kehidupan penulis itu
sendiri. Tapi tahukah kamu, tak sepenuhnya karakter yang ada di novel ini
nyata. Oke, kita sama-sama tahu lah yah. Fiksi tetap saja fiksi. Bagaimanapun, beberapa
penulis masih memerlukan karakter imajiner dalam novel based on true story
sekalipun untuk memaniskan jalan cerita. Dan di novel ini, dialah lintang si
cerdas didikan alam yang merupakan karakter rekaan. Karakter-karakter di novel
ini tak sepenuhnya menggunakan nama asli, tapi semuanya merupakan karakter
nyata. Tapi lintang? Beberpa anggota dari laskar pelangi dan bu muslimah bahkan
tak mengenali siapa itu lintang. Rata-rata mereka menjawab, anak paling pintar
dikelas itu ya si ikal alias andrea hirata itu sendiri. Oke, anggap saja, mana
mungkin seorang penulis bercerita tentang dirinya sendiri dengan karakter yang
teramat bagus dalam novel karyanya yang sudah di cap based on true story. Tapi
bagaimanapun juga, walau hanya karakter rekaan, saya tetap menyukai karakter
lintang, karena dulu dia lah yang memotivasi saya pas UAS kelas dua SMA.
Novel ini luar biasa buat saya (oke i say it again). Bukan
hanya dari sisi literasinya, tapi pengarunya terhadap pembaca. Saya tahu,
saya bukan ahlinya dalam bidang ini. Maka ijinkanlah saya menilai
keluarbiasaan novel ini berdasarkan apa yang saya rasa. Saya menyelesaikan
novel ini dengan cukup banyak renungan. Yak renungan. Mereka−anak-anak laskar
pelangi yang tumbuh di lingkungan keterbatasan materi dan keterbatasan
fasilitas sekolah saja memiliki semangat luar biasa untuk maju, untuk belajar
demi masa depan. Saya merasa ditampar. Saya yang meski bukan orang kaya tapi
merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kadang sering putus asa, lelah,
gampang nyerah untuk meraih sesuatu, dan berbagai penyakit-penyakit malas
lainnya. Saat itu juga saya sedikit termotivasi dari karakter lintang, salah
satu buktinya ya pas UAS, Saya terlampau rajin waktu itu. Oke kedengarannya
lebay yah. But it’s true.
Selain pengaruh tersebut, novel ini juga merupakan yang paling laku dipinjam sana sini sama teman-teman saya, bahkan sama
yang nggak suka baca sekalipun. Tepat setelah beberapa hari saya
menyelesaikannya, novel ini bergiliran berpindah-pindah tangan dalam waktu
kurang lebih tiga bulanan. Kecewanya, peminjam novel terakhir sepertinya kurang
bisa menjaga, selain dia yang paling lama minjam, novelpun kembali dalam
keadaan keriput. Saya rasa ketimpa air
minum atau bahkan masuk kedalam air. Sungguh menjengkelkan. Padahal ini adalah
novel pertama yang membuat saya serius belajar nulis. Padahal sebelumnya nulis hanyalah sekedar
hobi corat coret tanpa mau tahu tekniknya.


Komentar
Posting Komentar
Bercuap here!