Topeng Untuk Mega Mendung



            Aku mentransmisikan cahaya kosong dari mataku pada awan. Tatapan hasil dari pengkristalan sebuah dikotomi yang datang dari arah berlawanan. Juga tuntutan dan kesadaranku yang menemukan jiwanya sendiri secara alami untuk bertindak. Di atas benar-benar mendung. Awan agak gelap menyandingkan teduh namun pilu. Aku menyipitkan mata. Mengendurkan kelopak dan bermanuver pada titik lurus pandangan di depanku. Tenda, kursi, hiasan, dan panggung.
           
Satu langkah yang ragu-ragu, aku menghampiri tenda itu. Dua langkah, tiga langkah. Aku berkali-kali dihentak oleh tombak ingatan. Delapan belas langkah, aku menyentuh sisi panggung berbentuk persegi panjang setinggi setengah meter dan tanpa atap pelindung itu. Tinggi panggung itu tepat sejajar dengan pinggulku. Aku duduk di atasnya hanya dengan sekali loncatan sederhana. Kupicingkan mata sembari menangkap kembali percakapan bersama ibu dua hari kemarin.
           
Saat itu Ibu berbicara dengan sedikit mengecilkan volumenya. Takut-takut kalau ketaksukaannya pada pilihanku terdengar oleh yang lain, walaupun, semua anggota keluarga memang telah mengetahuinya saat itu. Saat aku mengajukan diri di tengah-tengah rapat keluarga besar mengenai kepenerusan kiprah Mak Inah.
           
Ibu duduk di samping ranjang kasurku. Matanya masih menyiratkan dan berharap aku dapat mengikuti maunya. “Bagaimana dengan surat penerimaanmu di Fakultas Kedokteran UGM?” tanya ibu waktu itu.
           
Aku dibuat semakin resah. Gundah. “Aku tak akan mengambilnya, Bu.” Suaraku lemah hampir tak terdengar.
           
“Bagaimana dengan janjimu pada Ayah?”
           
“Ayah tak akan marah.”
           
Tangan kanan Ibu menyangga kening sambil mengendurkan air mukanya. Aku tahu ia tengah bersedih.
           
“Tak ada lagi yang bisa meneruskan keinginan Ayah. Cuma kamu anak semata wayang Ibu,” ucap Ibu dengan menyentuh bahu kananku. Ia masih terlihat berusaha meyakinkanku.
           
Ia melepaskan sentuhannya dari bahuku sambil berkata, “Mak Inah masih punya empat cucu perempuan lain yang sudah cukup usia untuk melanjutkan hal itu.”
           
“Tapi aku salah satu yang menonjol dalam keluarga.”
           
“Masih ada Ayana,” sergah ibu, tegas.
           
“Tapi dia baru enam belas tahun, Bu.”
           
Mata Ibu terlihat semakin sayu.
           
“Bu....” Aku beranikan menatap wajahnya langsung. “Tolonglah... Aku mencintai tari. Kebudayaan ini. Aku ikhlas meneruskan ini dan mengurus sanggar ini kelak.”
           
“Ayah pasti kecewa di surga,” Desisnya pelan memalingkan wajah dariku.
           
“Lalu kau mau berhenti sekolah?” lanjutnya. Kembali matanya menelisik wajahku yang teguh dalam kebimbangan.
           
“Aku akan mengambil seni tari di Bandung. Aku akan meluaskan sayap pada dunia ini.”
           
“Baiklah. Ini hidupmu.”
           
Ibu berlalu dari hadapanku begitu saja. Ia keluar dengan menutup kamarku pelan.
           
Ingatan itu menyakitkan. Kata-kata Ibu sepenuhnya tak bisa kuhempas. Aku bukannya tak menginginkan kuliah kedokteran. Kalau aku memilih kedokteran, hal itu pasti sangat menyita waktu dan tak bisa berjalan seiring dengan posisi yang akan sebentar lagi tersematkan padaku.
           
Aku siap meneruskan kemaestroan Mak Inah. Aku siap meski harus meninggalkan cita-citaku dan keinginan kedua orangtuaku yang berharap agar aku menjadi seorang dokter. Walau aku tak ingin mendustai Ayah. Tapi aku juga tak ingin menyisakan jejak pilu pada hati Mak Inah yang telah rapuh dimakan usia. Toh aku meninggalkan sesuatu yang dicintai untuk hal yang juga aku cintai. Aku sangat mencintai tari. Impas kan?
           
Hilir mudik para tukang dekorasi yang mulai ramai bekerja menarik kembali terawanganku. Tenda kedua tengah dipasang. Aku beranjak dari panggung dan menuju kursi penjalin di dekat pintu masuk rumah. Pelataran rumah yang besar benar-benar sudah penuh hiasan. Tidak mewah. Namun nuansa tradisi terlihat kental dan pas.
           
Aku mengingat kata-kata Lingga kemarin.
           
“Menurutku tak ada yang namanya pilihan tepat dan tak tepat. Yang ada, orang yang tak bisa membawa pilihannya dengan baik.”
           
Aku ketawa sekali melihat mukanya yang sok bijak dan serius itu.
           
“Aku nggak ngerti kamu ngomong apa,” aku mengatakannya seraya menahan sedikit tawaku.
           
“Eh seriusan, Mega.”
           

“Iya, aku ngerti kok.” Aku menghentikan tawaku dan menggantinya dengan raut serius. “Makasih. Kita jadi nggak bisa kuliah di Jogja bareng. Kita nggak bisa bareng-bareng jadi dokter.”
           
“Iya, yah. Itu kan cita-cita kita dari kecil.”
           
“Maaf.”
           
“Kau tak perlu meminta maaf. Kau telah menemukan pilihanmu. Dari hati. Aku percaya itu.”
           
“Pokoknya...” Ia melanjutkan. Kembali garis-garis serius di wajahnya ia pertontonkan. “Kalau kamu sendiri sudah memutuskan ini dengan segenap hatimu. Walaupun diterjang apa pun, kamu tak boleh kembali untuk mengambil apa yang kamu tinggalkan dan meninggalkan yang kamu telah ambil.”

***

Akhirnya hujan datang. Percik gerimis sedikit melumerkan banyak kebekuan dalam pikiranku. Aku mencoba keluar dari persembunyianku di kamar. Hanya ingin menuruti langkah yang masih menunggu pikiran untuk berkomando. Sayang, pikiran pun hanya diam tak mau bekerja pada hal lain. Ia membiarkan kaki berjalan tanpa arah.
           
Langkah ini menuntunku menyusuri keramik coklat kecil ke arah ujung selatan rumahku. Banyak perabotan ukir khas jepara di sini. Bagian rumah ini adalah tempat kamar Mak Inah dan juga ruang keluarga besar yang biasa digunakan untuk mengobrol santai maupun serius. Kemarin, ruang ini dipakai untuk membahas siapa yang akan meneruskan sang maestro tari topeng, Mak Inah. Mak Inah tak memilihku secara langsung. Ia membiarkanku berpikir. Tapi aku langsung menerimanya. Aku tahu aku benar.
           
Rumah ini nampak satu bangunan. Tapi di dalamnya terbagi dua sisi yang memisahkan bagian yang didiami Ibuku dan bagian yang didiami Mak Inah. Aku hanya tinggal bersama kedua orang itu dan juga seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang merupakan orang kepercayaan kami. Anak-anak Mak Inah yang lain tersebar di seluruh Cirebon dan satu orang merantau di kota lain mengikuti suaminya.
           
Mak Inah tiba-tiba saja menghampiriku ketika mataku tertarik lekat-lekat pada pigura foto besar yang terpampang jelas di ruang keluarga—yang disampingnya dipajangi kesembilan jenis topeng, dan diatasnya terpasang satu topeng pusaka yang konon warisan ibu dari Mak Inah yang juga seorang penari topeng.
           
“Topeng yang di atas itu akan menjadi milikmu besok.” Mata Mak Inah berbinar lekat ketika memandangi topeng itu. Aku teduh sekali melihat guratan senyum di wajah keriput beliau.
           
“Mega sudah siap?” suaranya masih bening terdengar meskipun ucapannya sudah melambat.
           
“Siap, Mak,” jawabku dengan wajah sayu.
           
“Kenapa?” Mak Inah menikam jelas pandanganku. Ia jelas-jelas menangkap kegalauanku.
           
“Kita batalkan saja acara ini,” ucapnya lagi, dengan senyum. Senyum  yang sayang masih tak bisa menutupi wajah pilunya.
           
“Kenapa, Mak?”
           
Ia memelukku. Mengelus-elus bahuku lembut. Harum tubuhnya yang menua mengisahkan jatuh bangun hidupnya di masa lampau. Ia pernah bercerita bahwa saat umurnya tiga puluh lima tahun, tari topeng dianggap sebuah tarian yang menimbulkan gairah dan syahwat lelaki. Pementasan tari topeng Mak Inah dilarang manggung selama sepuluh tahun, sebelum akhirnya keadaan kembali normal.
           
“Mak tak ingin mengorbankan cita-cita cucu sendiri demi tradisi.”

“Apa maksudnya, Mak? Mega ingin sekali meneruskan kejayaan Mak Inah. Mega hanya perlu menjaga. Mungkin tak bisa meneruskannya dengan baik. Tapi Mega ikhlas.”
           
“Mak tahu kamu ikhlas. Tapi kamu belum bisa teguh. Mak tak ingin mengambil Kamu dari keinginan ibumu. Kamu anak semata wayang ibumu”
           
Aku menangis dipelukan wanita paruh baya berusia tujuh puluh lima ini. aku menangis melampiaskan kegusaranku.
           
“Ayo, katakanlah pada ibumu, Kamu akan tetap mengambil kuliah kedokteran dan kita gagalkan acara ini. Tak ada lagi yang perlu ditekan untuk tradisi.”
           
“Nggak!” aku menjawab mantap masih dengan air mata.

***

Jam empat sore setelah Ashar, hujan akhirnya benar-benar berhenti. Tenda sudah dipenuhi beberapa pasang mata sekaligus pencari berita. Mak Inah, beserta ibuku—yang masih tak bisa menyembunyikan guratan kecewa di wajahnya—sekaligus anggota keluarga lain, sudah duduk di bagian depan. Mak Inah berada di tengah-tengahnya. Lengkap dengan toka toka, apok, batik, sampur, sobra, sinja dan ampreng. Sama seperti yang aku kenakkan saat ini. Pakaian tari topeng yang kubuat sendiri hasil pendalaman seni ini sejak empat belas tahun silam.
           
Di atas panggung, Aku memulai dengan sekali ayunan selendang yang kulepaskan dalam sekali hentakkan, diiringi bunyi kecrek yang singkat. Gong berdengung seketika dalam satu kali pukulan. Gamelan laras slendro yang terdiri dari pangkon bonang, saron, kenong, ketuk, juga Gendang, kemanak, dan bendhe menyusul kemudian melagukan kembang sungsang. Aku meliuk-liukkan kedua tangan secara halus dan lambat. Kumulai tarian dengan fase baskarai[1]. Lalu kulanjutkan dengan memakai topeng. Topeng panji adalah yang pertama. Sebuah tarian halus nan gemulai aku pertontonkan. Melambangkan kesucian manusia saat dilahirkan.
           
Lima menit kemudian, kulepas topeng dan kugantikan dengan topeng samba. Gerak kutambah sedikit mengikuti irama gamelan yang mengiringiku dengan lagu kembang kapas. Selesai dengan samba, kulanjutkan dengan topeng rumyang yang berwarna merah muda. Kekuatan gerak semakin kutambah. Beberapa pasang mata mulai menepuk-nepukan tangan. Mak Inah memperhatikanku dengan seksama. Matanya yang haru semakin menambah semangatku di atas panggung.
           
Dengan gerakan cepat, topeng patih sudah kugigit dengan gigiku. Warnanya yang merah padam dengan mata melotot seiring dengan irama lagu tumenggung yang semakin menghentak. Kutontonkan gerak dinamis yang cepat dengan kekuatan penuh. Aku berhenti untuk diam sejenak, membiarkan tepuk tangan mengiringi pelepasan topeng yang perlahan kutaruh di bawah bagian depan panggung.
           
Kulanjutkan tarian pamungkas dengan topeng kelana. Sebuah wajah merah padam dengan mata beringas dan kumis yang menebal menutupi mukaku. Capek yang sudah tak terkira tergantikan semangat berapi-api. Seakan memiliki kekuatan magis tersendiri. Topeng ini benar-benar membuat jiwaku semakin bergejolak. Irama gonjing dimainkan. Aku berlari ke sana kemari mengitari panggung. Tarian berubah maskulin dengan gerakan godeg dan banting tangan yang semakin cepat. Tarian semakin beringas ketika alunan sarung ilang menggantikan lagu gonjing. Aku semakin dibuat lepas belingsatan. Lambat laun semakin cepat dan semakin beringas. Tarian ini melambangkan sosok yang serakah dan penuh amarah. Gambaran terburuk dari jiwa seorang manusia. Tarian dan irama lalu berhenti dengan senada.
            
Lima belas menit sudah tarian ini kupertontonkan. Riuh tepuk tangan penonton menyadarkanku. Ada beberapa di antaranya yang berdiri. Kulihat wajah Ibu yang jauh berbeda. Ia memeluk Mak Inah yang tengah menahan haru air matanya.
            
Mak Inah menghampiriku membawa topeng kelana pusaka yang pernah ia gunakan saat pentas di Jepang dan negara-negara Asia lain dalam pertunjukan budaya. Topeng itu ditidurkan di atas nampan yang dilapisi kain batik mega mendung—batik khas cirebon. Tubuh lasi Mak Inah dituntun Mas Bahyu—anak keduanya—untuk naik ke atas panggung. Air matanya jatuh menutupi wajahnya yang keriput. Ia menatapku lekat-lekat. Tak ada kata yang ia ucapkan. Hanya matanya yang dalam menyampaikan pesan padaku.
             
Tangannya halus mengelus wajahku. Aku menadah topeng yang ia berikan. Topeng menawan hasil lukisan ibu dari Mak Inah delapan puluh tahun silam. Warnanya sedikit memudar. Namun aura magis yang kuat masih kental dan tampak menawan. Aku memakai topeng itu. Kutunjukkan tarian terakhir di hadapan beliau selama satu menit. Ibu beranjak dari kursi seiring dengan tepuk tangan penonton yang sebagiannya ikut menitihkan air mata. Aku mengakhiri ucapara penyematan ini dengan memeluk erat-erat tubuh wanita tua yang sudah ringkih dan penuh uban namun punya semangat besar untuk menyelamatkan budaya dari kikisan jaman yang semakin lari dari tradisi ini.
             
Sungguh, aku bangga padanya.

Dari kanan ke kiri; Topeng panji, samba, rumyang, patih, dan kelana
***

Kupeluk punggunya perlahan. Mata kristalnya yang sayu melihat keluar jendela. Memandangi halaman belakang yang penuh rerumputan dan pelataran batu bata ditengahnya. Dulunya, itu adalah tempat aku berlatih menari saat kecil bersama ketiga saudaraku—Arum, Mayang, dan Murni. Ibuku salah satu yang mengajari kami semua. Ia menari sebagai tradisi keluarga kami. Ia seorang penari yang luwes nan gemuali saat membawakan topeng panji. Mak Inah pun sangat memuji keanggunan tariannya dalam topeng panji. Ia yang terbaik.            

Aku ingat betul wajah Ibu yang selalu ceria mengajarkan satu demi satu gerakan tari topeng panji pada kami. Dulu ia pernah bilang, “Suatu saat nanti kamu harus bisa mahir menari. Biar kamu bisa jadi dokter yang berjiwa seni.”
             
“Kata Ibu, aku harus mahir menari. Malahan, sekarang aku sudah jadi seorang penerus maestro loh, Bu,” ucapku setengah bergurau. Kupeluk tubuh ibuku yang masih menatap ke luar jendela. “Maaf. Tapi aku tak bisa menjadi dokter yang pandai menari, Bu,”
            
Ibu mengelus tangan kiriku yang masih memeluknya. “Dulu, Nenek buyutmu meninggal saat Ibu belum lahir. Beliau dituduh mata-mata oleh Jepang dan dijadikan budak seks selama sepuluh hari hingga dia bunuh diri karena tak tahan.”
             
“Lalu Mak Inah. Dia dulu pernah berhenti menari selama sepuluh tahun karena tariannya dianggap membangkitkan syahwat kaum lelaki. Tari topeng dianggap tarian erotis waktu itu. Selama sepuluh tahun itu ia membentuk pementasan sandiwara bersama kakek yang tak pernah memberinya kesuksesan. Pentas sandiwaranya tak pernah berjalan mulus sebelum akhirnya tari topeng kembali bangkit dan ia kembali menemukanan dunianya kembali.”
            
“Ibu akan menceritakan satu hal.” Aku masih memeluknya. Mata ibuku tetap lekat pada taman di luar jendela. “Katanya, nenek buyutmu dulu pernah melakukan pesugihan. Bersama kakek buyutmu, dia menaikki Gunung Ciremai dan bertapa selama lima hari tanpa makan dan minum di sana. Konon dia meminta tolong pada mahkluk halus penunggu bukit agar tari topeng miliknya menjadi yang paling terkenal. Tapi makhluk itu meminta satu hal. Mengorbankan anak dari nenek buyutmu untuk menjadi tumbal—yaitu Mak Inah. Tapi mereka tak melakukannya. Mak Inah menjadi anaknya yang paling menonjol dalam tari topeng. Dan mereka pun menyadari kesalahannya. Tapi makhluk itu tak tinggal diam. Ia mengirimkan hal-hal buruk buruk pada nenek buyutmu. Tak hanya itu, nasib itu turun pada keturunannya yang meneruskan tari topeng.”
            
“Ibu dulu pernah ikut Mak Inah yang mentas tari topeng di Keraton Kasepuhan. Di sana, ada seorang abdi dalem yang memberitahu kami, bahwa kutukan itu akan diwariskan pada penerus-penerus tari topengnya. Tapi Mak Inah tak percaya hal semacam itu. Mak Inah tahu bahwa kejadian buruk yang ia hadapi semata-mata karena takdir. Bukan kesalahan nenek buyutnya yang meminta tolong pada makhluk halus.” Ibu mengakhiri ceritanya. Ia kini berbalik badan dan memelukku.
            
Aku memeluknya semakin erat. Kini aku tahu alasannya yang melarangku meneruskan kiprah Mak Inah. Semua itu bukan semata-mata karena keinginannya menjadikanku seorang dokter. Tapi lebih dari itu. Ia hanya tak ingin melihat anaknya sengsara. “Benar kata Mak Inah. Kenapa Ibu mempercayai hal semacam itu?”
            
“Sebagai anak yang melihat ibunya jatuh bangun dan seorang Ibu yang tak ingin anaknya jatuh ke dalam lubang itu. Ibu tak ingin itu terjadi. Tak peduli apa itu benar atau hanya sekedar kebetulan.”
            
“Ibu tak perlu khawatir.”
            
Ibu memelukku lagi semakin erat.
            
“Maafkan Ibu.”
            
Air mataku jatuh di bahunya. Tangan Ibu yang lembut menggosok punggungku. Tanpa lisan pun, hati kita berbicara. Naluri seorang anak dan ibunya kini tengah bertemu dan mencoba saling mengerti masing-masing.
            
“Mak Inah pasti sangat bangga padamu.”

***

“Ngantuk, ya?” aku menghampiri Lingga yang masih setia duduk di teras menungguku.
            
“Ah, gimana?”
            
Aku duduk di sampingnya. Masih dengan pakaian lengkap dan muka sembab.
            
“Orang tua memang selalu begitu. Mereka punya alasan kuat yang tak pernah diungkapkan.”
             
“Jadi?”
             
“Ia mengijinkanku.” Ucapku seraya tersenyum lebar.
             
“Aku senang mendengarnya.”
            
Lelaki ini memandangiku dengan senyuman polosnya.
            
“Ini lihat!” Ia menyodorkan monitor SLR-nya dihadapanku. Ia mngklik tombol navigasi, mempertontonkan gambar hasil jepretannya selama aku menari di atas panggung tadi. “Nah, aku suka yang ini.” ia menunjuk fotoku saat melepas topeng patih. Foto itu mempertontonkan wajahku yang lesu namun dengan sorotan mata yang tajam.
             
“Lingga,” sahutku, mendelik ke arahnya yang masih sibuk mengotak-atik tombol navigasi. “Makasih, ya.”
           
Ia membalas tatapanku. Agak kaku.
            
“Maaf nggak bisa menjadikan mimpi kita untuk bersama-sama jadi dokter,” ucapku.
            
“Mega Mendung. Namamu saja sudah tak cocok sebagai dokter. Kamu memang terlahir untuk menjadi maestro penari tradisional di jaman milenium. Sebuah tugas yang berat.”
            
“Benar, asal kamu tetap mendukungku.”
             
“Tentu.” Ia kembali mengotak-atik tombol di kamera SLR-nya sembari berkomentar banyak hal tentang foto-fotoku selama menari di atas panggung tadi.
           

- END –

*Cerpen yang diikutsertakan dalam seleksi KampusFiksi Emasnya DIVAPress dan nggak lolos. Ahahaha*



[1] Tahap dalam tari topeng sebelum penari memakai topeng

Komentar

Postingan Populer