DAY8 Something You Struggle With


"And life is like a pipe. And I'm a tiny penny rolling up the walls inside." - Amy Winehouse
Tema Writing Challenge hari ke delapan adalah something you struggle with. Tiap ingat kata struggle saya langsung terpikir penggalan lirik di lagu Back to Black milik Mbak Amy Winehouse. Bayangin kamu adalah koin recehan yang menggelinding di dalam pipa; bergulung-gulung, kejedot sana-sini dan pengap lagi sempit. And that is life. Saya punya struggle terhadap self-esteem or self-confidence. Percaya diri yang saya miliki bisa naik turun secepat dan seextreme hysteria di Dufan. Kadang saya bisa jadi terlampau PD kadang tidak sama sekali. Saya bisa sangat percaya diri, tapi itu semata hanya saya tunjukkan pada diri sendiri. Tapi setiap kali melihat kenyataan, saya lebih sering mengalami krisis. Bahkan saya masih sulit menyebut diri saya sebagai penulis atau pun guru. Saya takut untuk mengaku sebagai guru bahasa Inggris sementara kemampuan saya masih terbilang rendah. Saya juga agak sungkan menyebut diri saya sebagai penulis sementara perkembangan tulisan saya amat lambat dibanding teman-teman seperjuangan *halah*.
Krisis percaya diri ini pula yang membawa saya menjadi seseorang yang terlihat not a risk taker. Saya pernah ditawari beberapa kali untuk mengerjakan sesuatu sejak jaman kuliah, tapi karena percaya diri yang minim, seringnya saya bertanya berkali-kali sampai detil. Saya ingin mengerjakan sesuatu yang sudah jelas, and I know it’s something that I’m capable of. Bahkan, saya sering menolak tawaran tersebut lantaran berpikir itu akan sulit untuk saya kerjakan. Bahkan sampai sekarang pun. Ketika teman kerja menawarkan part time job di salah satu lembaga kursus yang lain untuk mengisi jam malam, saya bertanya berkali-kali untuk mendapat gambaran yang jelas; level berapa yang saya tangani, dari sekolah mana, anak kelas berapa. Dan begitu dia bilang bahwa itu kelas karyawan, saya langsung insecure dan merasa tidak mampu, sampai pada ujungnya teman saya berkata, “kamu itu nggak akan naik level kalau kamu cuma senang di zona nyaman.” Ya I know that. But it’s just, I can’t—it’s hard to get over my insecurities and low self-esteem.
saya dulu merasa bisa melakukan banyak hal. Tapi seiring waktu kemampuan itu sepertinya tak bertambah. Tak ada hal khusus yang benar-benar hebat yang saya mampu lakukan. Saya sering berpikir bahwa orang lain mempunyai kemampuan yang effortless. They seem they can do specific thing they’re good at effortlessly. I mean, they are such prodigy. They no need to learn as much to be what they want. Sedangkan, saya butuh berkali-kali. Saya butuh mempelajarinya lebih dari mereka untuk mencapai level yang sama. I always motivate myself that if anyone need only once to be able to do something, it is okay for me to do it three times, yang penting saya bisa ada di level yang sama, at least tidak ketinggalan jauh.
The second one that I struggle with is my introversion. I may not be an introvet. I believe that I’m ambivert. Saya punya kecenderungan untuk jadi pendiam dan banyak omong dalam porsi yang sama besar. Tapi jika ditempatkan pada waktu dimana interovert saya harus mendominasi, itu akan menjadi hal yang paling menyebalkan. Saya benci untuk menjadi penghindar. Saya pernah masuk dalam grup whatsapp pembaca buku. Tapi sekali pun saya belum pernah ketemu anggotanya meskipun kesempatan itu ada. Saya khawatir untuk bertemu mereka; Takut tidak nyambung, takut terlihat bodoh, takut tidak bisa mengikuti obrolan. Dan itu pun berulang saat saya masuk Kampus Fiksi. Selama kurang lebih setahun, saya hanya mengenal beberapa anggota, dan belum pernah bertemu lagi karena masih punya kekhawatiran yang sama. Tapi semuanya berubah sejak KFE, satu persatu teman saya kenal dan mulai bisa aktif dengan yang lain.
In a nutshell, saya benar-benar menghindari kontak langsung atau adaptasi di lingkungan baru. Saya pernah nongkrong sendiri di ruang tamu kosan, tapi begitu mendengar bunyi motor di gerbang, saya langsung kabur ke kamar. Atau saat saya tak siap disapa, bukannya malah menyapa balik, saya seperti tak punya ucapan untuk merespon, yang malah berujung kikuk. Sebenarnya ini bukan masalah besar. Hanya saja kadang menjengkelkan. Bayangkan, saya punya banyak kamus pertanyaan dan respon untuk saya pakai tiap bertemu orang--yang saya kenal tapi nggak begitu dekat--di jalan, tapi begitu kesempatan itu ada, kata-kata itu seperti buyar. 

Komentar

  1. Others are just as clueless as you sometimes, not as effortless as they seem... They just, dont have the courage to admit it, perhaps. ;)

    Semangat eruuu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih semangat lagi kalo dikirimi poskar dengan salju belanda tan ⊙﹏⊙

      Hapus
  2. Nanti pas ada kesempatan ketemu orang banyak lagi, atau harus melakukan hal besar yang baru lagi, taruh tangan di dada, dan katakan... all izz wel...

    *ter-3 idiots
    *ini komen gue malah kek promo film

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kita mitaaap... ceritain drama skripsi.. wahaha

      Hapus
  3. ayoookkk!! mana postingan hari iniii? *nagih tp belom nulis*

    BalasHapus

Posting Komentar

Bercuap here!

Postingan Populer